Sensasi

Sharing is caring!

Oleh : Ensu

Belanegaranews.com – Sensasi adalah deteksi energi fisik yang dihasilkan atau dipantulkan oleh objek-objek fisik yang terjadi, ketika energi dalam lingkungan eksternal atau dalam tubuh merangsang reseptor dalam organ-organ indra. Sensasi meliputi penglihatan, bunyi, bau, rasa, dan sentuhan. sensasi pada dasarnya merupakan tahap awal dalam penerimaan informasi.

Sensasi berasal dari kata latin, sensatus, yang artinya dianugerahi dengan indra, atau intelek. Sensasi adalah suatu perasaan yang timbul akibat adanya stimulus suatu reseptor, dalam artian tanggapan terhadap obyek yang dihadapi berdasar pertimbangan rasa atau emosi yang di cuatkan oleh rasa gembira, sedih, senyuman, tangisan atau sampai ketingkat kengerian yang akan mengujud eksistensi kemanusiaan.

Banyak hal didunia ini yang bisa menggugah sensasi yang menimbulkan ketakjuban, bahkan sebaliknya menimbulkan rasa rakut karena di sebabkan merasa terintimidasi. Lantas perlukah kecemasan atau uporia menjadi bagian dari hidup ini?. Jawabnya tergantung seberapa jauh kita menilai dari sebuah aksi yang menimbulkan sensasi. Disini penulis akan sedikit menguraikan tentang hakikat hidup yang berhubungan dengan sensasi. Kita menyimak permasalahan pilpres dari segi teknis, diantaranya berbicara kotak kardus, ini terjadi pro kontra tanggapan yang sempat ditayangkan di stasiun televisi, disana ada adu argumen yang kalau kita ikuti begitu mendebarkan, saling serang, adu argumen hingga sampai pada penyerangan wilayah privat. Sungguh acara yang penuh keberanian dan beresiko dimata pubkik. Begitupun pada pembahasan tentang visi misi pro kontrapun tentang hak tersebut menimbulkan sensasi kengerian dimata publik, adu argumen yang nyaris tidak bisa dibedakan oleh logika, antara pro dan kontra tidak terbantahkan lagi, narasi yang dibangun sama-sama mempunyai muatan penggiringan opini terhadap publik.

Untuk lebih memudahkan memberi penilaian dan menentukan siapa pahlawan atau siapa pecundang, penulis disini mengilustrasikan dalam bentuk lain, supaya kita mendeteksi kenyataan hidup ini dengan tenang dan damai, yang pada akhirnya kita tidak larut dalam kecemasan dan rasa takut terhadap hidup. Pembalap Moto GP seperti Rossi, Marques atau Pedrosa, selalu menyuguhkan sensasi kengerian bagi para penggemarnya, mereka memacu motornya dalam kecepatan 250 kpj bahkan lebih, melahap tikungan dengan tingkat kemiringan yang hampir menyentuh aspal, mereka saling salip dalam jarak hanya centimeter, hal ini bisa membuat berhenti detak jantung para penonton. Atau pada pertunjukan sirkus yang diperankan oleh seorang gadis cantik, mereka jungkir balik, berputar putar diatas ketinggian, membuat para penonton menjerit penuh kengerian.

Tentunya masih banyak contoh pentas kengerian yang bisa menguras emosi dan menahan nafas para penonton, silahkan pembaca untuk membuat ilustrasi sendiri, apakah kisah nelayan yang menerjang badai, atau akrobatik pesawat terbang bahkan hal kecil seperti menarik ikan yang ada pada mata kail ketika kita mancing, disana pasti didapat sensasi.

Memperhatikan beberapa contoh ilustrasi tersebut, terkadang kita hanya bisa mengelus dada, atau sesak nafas akibat detak jantung lebih kencang, bahkan sampai ada kasus orang mati karena menonton pertandingan akrobatik, ini sungguh kejadian yang memang pernah ada. Lalu perlukan kita mati disaat paslon presiden kita kalah debat?, perlukah kita uporia disaat narasumber pada sebuah acara yang kita agungkan memenangkan dan mematahkan argumen lawannya?, atau perlukan kita ikut memantu memiringkan badan disaat Rosi bermanuver ditikungan dengan kecepatan tinggi?. Jawabnya tergantung sejauhmana kita terlarutkan dengan sensasi yang dihasilkan dari sebuah perhelatan.

Kalau kita berfikir jernih, tidak perlu kita mengagumi secara berlebihan hingga batas kultus, karena setiap pribadi tentunya mempunyai keahlian dan jam terbang yang dipelajari dan tekuni, sehingga kengerian yang kita alami terhadap sebuah tayangan tidak perlu sampai pada tingkat mempengaruhi dan menggerus akal sehat kita. Para politikus berdebat, bagi mereka adalah hal yang biasa, saling mematahkan argumen, saling serang dengan sajian data yang sama-sama mengklaim data terakurat meski data bohong. Hoax demi hoax terkadang menghiasi ruang publik, saling adu terhadap tindakan hingga BAP kepolisian mereka lalui dengan santai. kenapa demikian?, karena itu suguhan yang membuat awam merasa ikut khawatir, tetapi dari prespektif pemain itu adalah hal biasa, karena mereka terlatih dan menguasai. Jeritan historis penonton ketika Rossi melahap tikungan dengan kecepatan tinggi, sesungguhnya bagi Rossi adalah kenikmatan dari hasil latihan dan menguasai, piawai dengan mumpuni.

Penulis bukan bermaksud melemahkan atau meremehkan para politikus yang sedang adu argumen, atau menganggap kecil akrobatik pemain sirkus, tetapi hanya menyajikan sedikit gambaran terhadap para profesional, apapun yang mereka sajikan adalah pada ruang dan tempatnya, mereka begitu hebat ketika dipandang oleh para penonton yang tidak pernah ikut terjun pada arena. Sehingga ada perlakuan tidak adil, pemirsa disajikan pada acara yang memang tidak pernah dialami, dan bukan hal istimewa yang disajikan mereka, karena memang terlatih untuk itu.

Terpenting, kalau kita tidak pernah belajar jangan pernah mau bermanuver seperti Rossi sang pembalap, justru kalau kita mencoba tanpa latihan, bukan hanya kengerian yang didapat, justru ngeri itu akan kita alami. Para politikus berdebat, mereka dilindungi dan ditugaskan untuk itu, sehingga lolos dari delik, kalau awam mau mencoba, dimungkinkan baru separuh kalimat yang terlontar, pasal telah menguntit anda.

Terakhir apapun sajiannya, mari kita nikmati dengan presfektif berfikir kita, mereka terlatih, mereka terproteksi, mereka ditugaskan untuk memberikan sensasi hiburan buat publik. Jangan pernah kita kena struk hanya kerena menonton jungkir balik akrobatik pemain sirkus, dan kalau tidak terlatih jangan pernah ikut terjun sekedar mencoba, nanti getah sensasi akan melilit tubuh anda.

Editor : Cepi Gantina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *