Abah Encang (68): Penjaga Hijau LA Tanjungjaya yang Tak Pernah Lelah Menanam Harapan

Sharing is caring!

BN NEWS, Garut || Di lereng hijau Desa Tanjungjaya, Lawang Angin (LA) Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut, terselip kisah seorang pria sepuh yang diam-diam menjadi teladan dalam menjaga alam. Abah Encang (68), bukan tokoh besar di media, bukan pula pejabat pemerintah. Namun dedikasi dan ketulusan hatinya dalam menjaga lingkungan telah menjadikannya sosok inspiratif bagi siapa saja yang mengenalnya.

Bacaan Lainnya

Dari Satu Langkah, Tumbuh Jadi Gerakan

Perjalanan Abah Encang dalam gerakan penghijauan dimulai dengan langkah yang sederhana namun penuh makna: menanam seorang diri. Di saat banyak yang hanya bisa mengeluh tentang perubahan iklim dan kerusakan alam, ia memilih untuk bertindak. Menggendong bibit di punggung, menggali tanah dengan tangan keriputnya, dan menyemai harapan dalam diam.

Tanpa sorotan kamera atau gemuruh tepuk tangan, ia berkeliling kampung mengajak warga ikut menjaga bumi dengan menanam pohon. Tak banyak yang langsung mengikuti, namun Abah tak menyerah. Ia percaya, alam akan menjawab kerja keras dengan kebaikan.

Lebih dari Sekadar Kopi: Menyemai Buah dan Ilmu

Meski wilayahnya identik dengan sayuran, Abah Encang tak ingin berhenti di satu jenis tanaman. Ia mulai menebar bibit buah-buahan seperti, kopi dan alpukat, yang kini sedang naik daun di kalangan petani dan pecinta lingkungan. Yang menarik, Abah sukses mengembangkan alpukat dengan teknik sambung pucuk dan sambung tempel, metode modern yang menjanjikan hasil lebih cepat dan berkualitas tinggi.

Tak pelit ilmu, Abah Encang dengan tangan terbuka menyambut siapa pun yang ingin belajar. Para pengunjung yang datang bukan hanya mendapat pengetahuan, tapi juga pulang membawa bibit sebagai oleh-oleh hijau, sebuah simbol harapan yang terus tumbuh.

Mandiri Tapi Terarah: Filosofi Penanaman Abah

Berbeda dengan gerakan penanaman massal atau kolektif yang seringkali tak berumur panjang, Abah memilih jalan mandiri. Ia percaya, dengan menanam sendiri, ia bisa memastikan setiap bibit dirawat dengan baik, tumbuh sesuai harapan, dan memberi manfaat jangka panjang, baik secara ekonomi maupun lingkungan.

“Kalau rame-rame, kadang sekadar seremonial. Tapi kalau sendiri, niatnya lebih dalam, hasilnya lebih terasa,” ujar Abah suatu hari, sambil menatap bibit alpukat yang baru ia tanam.

Tumpang Sari dan Belajar Tanpa Batas

Tak hanya menanam, Abah Encang juga mulai menerapkan sistem tumpang sari menggabungkan tanaman konservasi seperti alpukat dan kopi dengan sayuran di lereng seberang Warung LA (Lawang Angin). Metode ini tidak hanya menjaga kesuburan tanah, tapi juga memberi hasil panen yang lebih beragam dan berkelanjutan.

Yang lebih luar biasa, di usia senjanya, Abah tak pernah berhenti belajar. Ia menyerap ilmu dari mana saja: dari akademisi IPB, praktisi dari Astra, hingga para pemerhati lingkungan. Baginya, siapa pun yang membawa pengetahuan adalah guru.

Menanam Harapan, Menuai Perubahan

Hari-hari Abah Encang masih sama: menyapa pagi dengan cangkul dan bibit di tangan. Namun yang ia tanam bukan hanya pohon, tapi juga kesadaran dan cinta pada alam. Ia membuktikan bahwa menjaga bumi tak butuh panggung besar cukup dengan hati yang tulus dan langkah yang konsisten.

Kini, jejak Abah Encang tak hanya tertinggal di tanah, tapi juga di hati banyak orang. Ia adalah bukti bahwa satu orang bisa membawa perubahan. Bahwa penghijauan bukan soal program, tapi soal komitmen.

Semoga semangat Abah menjadi inspirasi bagi generasi hari ini dan esok, untuk terus menanam menanam harapan, menanam cinta, menanam masa depan.

Ditulis oleh : Cepi Gantina/Gae’s

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.