Wejangan Cinta Mbah Achmad Saat Tamu Menjadi Saudara, Suguhan Jadi Doa

Sharing is caring!

Purwokerto. Belanegaranews.com || Sabtu Siang (05/04/2025), sebuah ruang sederhana di belakang pompa bensin di pusat kota Purwokerto menjadi saksi dari pertemuan hangat penuh makna. Di tempat sederhana itulah, Mbah H. Achmad menerima kunjungan halal bihalal dari para relawan kemanusiaan, Aktifis Penggerak ZIS, tokoh agama, dan awak media dalam suasana yang sarat cinta dan keakraban pasca Ramadan 1446H.

Bacaan Lainnya

Di antara deretan tamu, hadir Ustadz H. Amrulloh Perumahan Griya Satria Bantarasoka, juga pengurus dan imam Masjid Baitussalam, pengerak ZIS, para pengusaha sahabat Mbah Achmad, serta beberapa tokoh dari Nahdlatul Ulama. Bukan hanya saling tegur sapa, saling mendoakan, bersalaman dan bermaaf-maaf, tetapi pertemuan ini menjadi momen berbagi nilai-nilai luhur tentang kehidupan, adab, dan kemanusiaan yang jarang ditemukan di ruang-ruang formal.

Dalam suasana yang tenang, Mbah H. Achmad yang dikenal bukan karena hartanya, tetapi karena kelapangan hatinya, gemar membagikan petuah sederhana namun dalam maknanya, juga mudah dipahami. Ia membedakan antara “tamu biasa” dan “tamu saudara.” Katanya, tamu biasa sering merasa canggung, menahan diri dalam menikmati suguhan, minuman, dan harus berulang kali dipersilahkan. Tapi tamu saudara, meski tak sedarah, datang dengan hati terbuka dan duduk seperti di rumah sendiri, karena merasa diterima sepenuh hati.

“Saudara itu menyenangkan dalam memikmati suguhan, juga tidak malu-malu. Ia menikmati dengan wajar, dengan penuh rasa syukur, karena tahu persis semua suguhan itu lahir dari cinta,” ujar Mbah Achmad. Ia menyebut bahwa di rumah maupun kantornya, tidak ada ‘hijab’ antara tuan rumah dan tamu. Semuanya serba ikhlas, terbuka, serba jujur, dan serba tulus.

Auliya Rachman, relawan penggerak ZIS dari Pasir Kidul, mengaku terkesan dengan ketulusan Mbah H. Achmad. “Beliau memuliakan tamu bukan hanya dengan suguhan, tapi dengan kehadiran yang utuh. Kita merasa pulang, bukan sekadar berkunjung,” ucapnya penuh haru.

“Semua Wejangan itu bukan sekadar kata, tetapi cerminan nyata dari cara beliau hidup dan menyambut siapa pun yang datang.” Imbuh Auliya.

Ustadz H. Amrulloh pun menuturkan, sudah puluhan tahun mengenal Mbah H. Achmad, bahwa silaturrahmi yang dilakukan dengan hati akan menyambung bukan hanya hubungan antar manusia, tetapi juga hubungan dengan Sang Pencipta.

“Adab dan ketulusan, dua hal yang kadang sederhana, tapi mengandung kekuatan spiritual luar biasa,” katanya.

Kegiatan berlangsung penuh kehangatan. Di ruang kerja lengkap dengan pendingin udara itu, para tamu duduk disofa, berbincang, dan sesekali tertawa bersama. Suguhan sederhana terasa seperti jamuan istimewa. Di sela perbincangan, Mbah Achmad bahkan dengan rendah hati menyebut dirinya hanya “Satpam Pompa Bensin.” Sebuah cara halus untuk mengajarkan bahwa kebesaran hati tak butuh label mewah.

Usai dari sana, Tim Relawan ZIS melanjutkan silaturahmi ke kediaman pengusaha muda NU, H. Roni, dan ke Kantor Kemenag Banyumas. Di sana, mereka diterima langsung oleh Kepala Kemenag, H. Ibnu Asaddudin. Dalam nasihatnya, beliau menegaskan pentingnya bekerja dengan hati.

“Gerakan dari hati akan sampai ke hati. Yang dibangun dengan emosi akan mudah runtuh, tapi yang dibangun dengan cinta akan kekal dalam manfaat,” tuturnya. (Kontributor : Djarmanto-YF2DOI//Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.