Shalawat Jalan Cahaya Menuju Syafaat, Penjelasan Drs. KH. Mughni Labib kepada Media

  • Whatsapp

Sharing is caring!

Bacaan Lainnya

BN News. Banyumas || Kewajiban umat Islam untuk memperbanyak shalawat kembali ditegaskan oleh Drs. KH. Mughni Labib, M.S.I., Dosen Fakultas Syariah UIN SAIZU Purwokerto, Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Banyumas, Ketua Dewan Pertimbangan MUI Kabupaten Banyumas, serta Ketua Yayasan Darussa’adah yang membawahi Pondok Pesantren dan lembaga pendidikan Al-Ittihaad Pasir Kidul, Purwokerto Barat, Banyumas, Jawa Tengah.

Dalam penjelasannya kepada awak media, Jum’at (12/12/2025) pagi melalui sambungan telepon, beliau menguraikan makna shalawat, dasar hukumnya, keutamaannya, serta kaitannya dengan syafaat Nabi Muhammad SAW.

Menurut beliau, membaca shalawat merupakan ibadah agung yang mendapat perintah langsung dari Allah sebagaimana termaktub dalam Surat Al-Ahzab ayat 56. “Ayat ini menegaskan bahwa Allah memberi rahmat kepada Nabi, para malaikat memohonkan ampunan untuk beliau, dan kita diperintahkan bershalawat serta memberi salam dengan penghormatan yang sempurna,” jelasnya.

Shalawat dalam Shalat dan Kesempurnaan Lafaznya

Dr. KH. Mughni Labib menjelaskan bahwa menurut Imam al-Syafi’i, membaca shalawat hukumnya wajib pada tasyahhud akhir. Hadits riwayat Abu Mas’ud al-Badri menjadi landasan bahwa Nabi SAW mengajarkan format shalawat sebagaimana dikenal sebagai Shalawat Ibrahimiyah.

Beliau juga menyampaikan keterangan ulama bahwa penambahan kata sayyidina tidak hanya dibolehkan, tetapi dinilai sebagai bentuk adab. “Imam al-Malibari dan Syekh Wahbah al-Zuhaili menegaskan kesunnahan menambahkan sayyidina sebagai wujud penghormatan kepada Rasulullah SAW,” ujarnya.

Keutamaan Membaca Shalawat

Shalawat memiliki keutamaan besar. Dr. KH Mughni Labib menukil hadits Nabi SAW,

“Barangsiapa bershalawat kepadaku sekali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim)

Selain itu, orang yang paling banyak bershalawat kepada Nabi akan menjadi yang paling dekat dengan beliau pada hari kiamat. Bahkan setelah adzan, doa khusus yang disertai permohonan al-wasilah menjadi sebab diperolehnya syafaat Rasulullah SAW.

Lima Jenis Syafaat Nabi Muhammad SAW

Dalam penjelasannya, Drs. KH. Mughni Labib menguraikan lima bentuk syafaat Nabi sebagaimana dituliskan Imam Qadhi Iyadh dalam Asy-Syifa’:

1. Syafaat Udzma, syafaat agung ketika Nabi memohon dipercepatnya proses hisab setelah manusia menanti lama di Padang Mahsyar.

2. Syafaat memasukkan sebagian umat ke surga tanpa hisab, sebagaimana hadis tentang 70.000 orang pertama yang langsung masuk surga.

3. Syafaat bagi mereka yang berhak masuk neraka, namun diselamatkan sebelum memasukinya.

4. Syafaat untuk mengeluarkan umat dari neraka, dengan izin Allah, bagi mereka yang memiliki dosa besar.

5. Syafaat untuk meninggikan derajat penghuni surga, sebagaimana janji Allah dalam Surat At-Tur ayat 21.

“Syafaat Nabi adalah anugerah besar bagi umatnya. Semoga kita termasuk yang mendapatkannya,” tutup Dr. KH. Mughni Labib.

Penjelasan beliau diakhiri dengan doa agar seluruh umat Islam istiqamah dalam membaca shalawat dan meraih keberkahan serta syafaat Rasulullah SAW.

(Kontributor : Djarmanto-YF2DOI//warto)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.