
BN News. Banyumas || Di sebuah rumah bambu di pinggir Desa Sokawera, Kecamatan Cilongok, Banyumas, seorang nenek renta duduk di beranda sambil menatap padi yang menguning. Namanya Mbok Dasiwen, usia sekitar 70 tahun. Tubuhnya kurus, wajahnya keriput, namun matanya teduh memantulkan ketabahan.
Awak media mencoba menyapanya, dan dari bibirnya mengalir kisah panjang kehidupan yang nyaris terlupa negara. Rabu (12/11/2025).
“Uripku seadanya, nduk… Yen ono sing ngajak tandur utawa panen, yo kerja. Yen ora, yo ngaso wae, mangan sak iso. Kadhang tetangga sing nulungi,” tutur Mbok Dasiwen pelan, suaranya bergetar namun tetap ramah.
Sudah puluhan tahun ia hidup tanpa KTP dan Kartu Keluarga. Tanpa dokumen, tanpa akses bantuan sosial, tanpa hak sebagai warga negara.
“KTP-ku ilang wis suwe banget, mungkin wes telung puluh taun(KTP saya hilang mungkin sudah tigapuluh taun lebih). Dulu pernah dicoba ngurus, tapi dibilang datane ora ketemu(datanya tidak ketemu). Aku yo bingung, wong ora ngerti apa-apa (saya ya bingung,orang tidak tau apa apa),” ujarnya sambil menatap tanah.
Tanpa suami, tanpa anak, Mbok Dasiwen menua sendirian. Hidupnya bergantung pada panggilan kerja di sawah dan belas kasih tetangga.
“Ora duwe anak, wong bojo wis ora ono. Aku mung kene dhewe. Yen ana rejeki, tuku beras sak kilo, yen ora, yo mangan sing ana,” katanya dengan senyum pasrah.
Meski hidup sederhana, ia tidak pernah mengeluh. Namun ada harapan kecil yang disimpannya selama ini, ingin sekali punya KTP lagi.
“Pengin nduwe KTP, nduk. Ben iso entuk bantuan, ben ora merepotke wong-wong. Rasane isin nek kakehan ditulungi,” ujarnya lirih.
Doanya akhirnya terjawab. Setelah kisahnya diketahui pemerintah daerah, petugas dari kecamatan dan Dindukcapil Banyumas datang malam itu juga untuk melakukan pendataan.
“Waktu petugas teko, aku nganti nangis. Ora nyangka bakal diurus maneh. Wong aku wis ora ngerti carane ngurus-ngurus,” tuturnya sambil mengusap mata.
Malam itu, Mbok Dasiwen akhirnya menerima dokumen kependudukan pertamanya setelah tiga dekade penantian. Ia menggenggam KTP itu seperti menggenggam secercah harapan baru.
“Alhamdulillah, Gusti… saiki aku duwe KTP maneh. Rasane kaya diakoni maneh dadi wong. Matur nuwun sing wis nulungi,” ucapnya haru.
Kini, Mbok Dasiwen bisa kembali merasa menjadi bagian dari negeri yang dulu seolah melupakannya. Dari rumah bambu dan jalan tanah itu, suaranya mengajarkan satu hal sederhana: bahwa hidup tak selalu tentang kelimpahan, tapi tentang pengakuan dan kasih sesama manusia.
(Kontributor : Baldy/Djarmanto-YF2DOI//warto)



















