BN NEWS, Garut || Di tengah deru pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) dalam program TMMD Reguler ke-128 Kodim 0611/Garut, ada satu sosok yang mencuri perhatian. Bukan karena jabatan atau peran besar, melainkan karena ketulusan dan keteguhan hatinya. Rabu (28/7/2026)
Ia adalah Ibu Juju (74), warga Kampung Cibangkerong, RT 04 RW 02, Desa Mekarmulya, Kecamatan Malangbong.
Di usia yang tak lagi muda, Ibu Juju tetap hadir setiap hari di lokasi pembangunan. Dengan langkah perlahan namun pasti, ia ikut membantu pekerjaan ringan, mengangkat bata ringan, menyiapkan alat, hingga merapikan kebutuhan di sekitar lokasi kerja.
Bagi sebagian orang, apa yang ia lakukan mungkin terlihat sederhana. Namun di balik itu, tersimpan pesan kuat: gotong royong tidak mengenal batas usia.
“Saya mah senang bisa ikut membantu. Walaupun sedikit, yang penting ada manfaatnya. Ini untuk kebaikan bersama,” ujarnya dengan penuh ketulusan.
Kehadiran Ibu Juju bukan sekadar membantu pekerjaan fisik, tetapi menjadi energi moral bagi seluruh personel TNI dan warga yang terlibat. Di saat tenaga muda kadang mengeluh, semangat dari sosok sepuh justru menjadi pengingat tentang arti keikhlasan dalam bekerja.
Program TMMD sendiri bukan hanya tentang membangun rumah layak huni, tetapi juga membangun nilai, tentang kebersamaan, kepedulian, dan rasa memiliki terhadap lingkungan.
Komandan Koramil 1106/Malangbong, Kapten Inf Acu Hasanudin, mengungkapkan bahwa apa yang dilakukan Ibu Juju menjadi teladan nyata bagi semua pihak.
“Beliau menunjukkan bahwa semangat membangun tidak ditentukan oleh usia, tetapi oleh niat. Ini menjadi motivasi bagi kami semua untuk bekerja lebih sungguh-sungguh,” ujarnya.
Lebih dari itu, kehadiran Ibu Juju menegaskan bahwa pembangunan yang berhasil bukan hanya yang berdiri secara fisik, tetapi yang tumbuh dari partisipasi masyarakatnya.
TMMD ke-128 di Desa Mekarmulya pun menjadi ruang di mana nilai-nilai lama yang hampir pudar, seperti gotong royong dan kepedulian sosial, kembali hidup dan terasa nyata.
Dari tangan yang tak lagi kuat seperti dulu, Ibu Juju justru mengajarkan sesuatu yang lebih besar: bahwa membangun desa sejatinya adalah membangun hati untuk saling peduli dan berbagi. (CG/Pendin 0611)



















