Mengantar Jenazah, Ditemani Bayangan: Cerita Sunyi dari Balik Ambulans Cibadak

  • Whatsapp

Sharing is caring!

Bacaan Lainnya

BN News. Cianjur || Minggu,5 April 2026 – Di jalanan sunyi yang membelah pelosok desa, deru mesin ambulans kerap menjadi satu-satunya suara yang memecah malam. Bagi sebagian orang, kendaraan itu adalah simbol harapan. Namun bagi Ncuy (35), setiap perjalanan justru menyimpan cerita yang tak selalu bisa dijelaskan oleh logika.

Sopir ambulans Desa Cibadak, Kecamatan Cibeber itu telah berulang kali mengantar jenazah. Tugas yang bagi banyak orang terasa berat, baginya adalah tanggung jawab. Namun di balik rutinitas tersebut, ada pengalaman-pengalaman ganjil yang terus terulang.

“Kadang ada yang aneh di dalam mobil,” ujarnya lirih.

Ia mengaku beberapa kali melihat sosok misterius di dalam ambulans. Sosok itu duduk di atas blankar—tempat jenazah biasanya dibaringkan. Yang membuat bulu kuduk merinding, sosok tersebut selalu membelakangi, tanpa pernah menunjukkan wajah.

Penampakan itu tak hanya sekali. Wujudnya pun berubah-ubah. Terkadang menyerupai jenazah yang baru saja diangkut—yang dalam kepercayaan masyarakat dikenal sebagai jin qorin. Di waktu lain, sosok itu tampak seperti pocong, diam tanpa suara, seolah hanya ingin menegaskan keberadaannya.

Meski begitu, Ncuy memilih tetap fokus pada kemudi. Baginya, keselamatan perjalanan adalah prioritas utama.

Keanehan tak berhenti di situ. Dalam beberapa perjalanan malam, ia kerap merasakan hembusan angin dingin yang tiba-tiba menyentuh telinganya. Padahal kaca mobil tertutup rapat, tanpa celah bagi angin masuk.

“Dingin sekali, seperti ada yang berbisik… tapi tidak ada suara,” katanya.

Momen paling menegangkan terjadi belum lama ini. Saat melintasi jalan sempit di kawasan bedeng, laju ambulansnya mendadak terhenti. Seekor ular sanca kembang melintang di tengah jalan.

Dengan lebar jalan hanya sekitar 2,5 meter, tubuh ular itu menutup hampir seluruh akses. Ncuy memperkirakan panjangnya mencapai 10 meter, membentang tanpa bergerak.

Ia hanya bisa terpaku di balik kemudi, menunggu dalam diam dengan jantung berdegup keras. Tak ada ruang untuk menghindar, tak ada pilihan selain menunggu.

Dalam sunyi malam, waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya. Hingga akhirnya, ular itu perlahan bergerak menepi, membuka jalan bagi ambulans untuk melanjutkan perjalanan.

Bagi Ncuy, semua pengalaman itu bukan alasan untuk berhenti. Ia tetap menjalani tugasnya dengan tenang, meski harus berdamai dengan rasa takut yang tak selalu terlihat.

“Sudah terbiasa,” ucapnya singkat.

Di balik tugas mulianya—mengantar yang hidup dan yang telah tiada—Ncuy menyimpan kisah-kisah yang tak semua orang berani dengar. Tentang perjalanan sunyi, bayangan tanpa wajah, dan misteri yang seolah ikut menumpang di balik blankar ambulans.

(Jurnalis : Warsito)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.