Sambut Event Layangan Dunia, Kang Ilet Dorong Aksi Nyata: Warga Dua Desa di Cisurupan Bergerak Benahi Akses dan Aliran Air

  • Whatsapp

Sharing is caring!

BN NEWS, GARUT ||Menjelang gelaran Event Layangan Dunia 28 Juli–2 Agustus 2026 di kawasan Tepas Papandayan, satu hal menjadi sorotan: kesiapan infrastruktur dasar di wilayah penyangga. Di Kecamatan Cisurupan, jawabannya datang dari bawah, aksi gotong royong lintas desa yang dipicu oleh kepedulian pegiat pariwisata dan lingkungan. Minggu (3/5/2026)

Bacaan Lainnya

Warga Desa Cisurupan dan Desa Karamatwangi bergerak bersama melakukan kerja bakti di sepanjang jalur dari parkiran Carik menuju Jalan Cagak, akses utama ke arah Gunung Papandayan. Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan respons konkret terhadap potensi persoalan klasik: jalan sempit, sampah, dan aliran air yang kerap merusak badan jalan.

Sosok yang menonjol dalam gerakan ini adalah tokoh pegiat pariwisata dan lingkungan, Nandang Supradinta atau akrab disapa Kang Ilet. Ia melihat momentum event internasional sebagai peluang sekaligus ujian kesiapan kawasan.

“Kami sangat mendukung event Layangan Dunia yang akan digelar meliputi tiga kawasan, yaitu Desa Karamatwangi, Cisurupan dan Balewangi. Tapi dukungan tidak cukup dengan wacana, harus ada aksi nyata di lapangan. Ini bagian dari tanggung jawab kami sebagai pegiat pariwisata dan lingkungan,” tegasnya.

Kerja bakti difokuskan pada pelebaran jalan, pembersihan sampah, serta normalisasi saluran air. Upaya ini dinilai krusial, mengingat aliran air dari kawasan hulu kerap meluap ke jalur utama bahkan ke pemukiman warga.

“Salah satu yang kami kerjakan adalah memecah alur air yang biasanya besar mengalir ke lokasi event dan ke pemukiman. Ini langkah antisipasi agar tidak terjadi kerusakan saat kegiatan nanti berlangsung,” jelas Kang Ilet.

Kegiatan dimulai dari wilayah hulu di kawasan kehutanan (Perhutani) yang berbatasan dengan lahan Carik milik tiga desa, Cisurupan, Karamatwangi, dan Balewangi, lalu berlanjut ke area parkiran Carik hingga jalur utama. Dari total rencana sekitar 1 kilometer, progres baru mencapai sekitar 10 persen setelah empat kali pelaksanaan setiap hari Jumat.

Kepala Desa Karamatwangi, Rana Kurnia, mengakui tingginya partisipasi warga dalam kegiatan ini, sekaligus menegaskan pentingnya pembenahan sejak dini.

“Alhamdulillah masyarakat sangat antusias. Kami juga sedang fokus pada normalisasi saluran air supaya tidak merusak jalan utama menuju lokasi event di Tepas Papandayan,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Daerah Garut, Bupati dan Wakil Bupati, Dinas Pariwisata, SKPD terkait, serta Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pusat atas dukungan terhadap penyelenggaraan event tersebut.

Sementara itu, Kepala Desa Cisurupan, Mumad Setiawan, menilai kerja bakti ini sebagai bukti bahwa kekuatan desa terletak pada kebersamaan.

“Gotong royong ini bukan hanya soal jalan, tapi soal kesiapan kita sebagai tuan rumah. Kita ingin memberikan kesan terbaik bagi tamu yang datang,” katanya.

Namun di balik semangat itu, pesan yang lebih tajam strong, kesiapan destinasi tidak bisa hanya bergantung pada event, tetapi harus dibangun dari kesadaran kolektif.

Dari Cisurupan, Kang Ilet dan warga dua desa menunjukkan bahwa pariwisata berkelanjutan bukan sekadar promosi, melainkan kerja nyata, mulai dari hal paling dasar, jalan yang layak dan lingkungan yang tertata. (Cepi Gantina)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.