
BN NEWS | Cianjur, 3 Juni 2026
Tekanan ekonomi yang semakin berat akhirnya memakan korban. Sebuah pabrik tahu di wilayah Langensari, Kabupaten Cianjur, terpaksa menghentikan seluruh aktivitas produksinya setelah tidak sanggup lagi menanggung lonjakan harga kedelai dan lesunya pasar yang berkepanjangan.
Harga kedelai yang terus merangkak naik membuat biaya produksi membengkak dari hari ke hari. Di sisi lain, daya beli masyarakat yang melemah menyebabkan penjualan anjlok drastis. Kombinasi dua persoalan tersebut menjadi pukulan telak bagi para pelaku usaha tahu yang selama ini berjuang mempertahankan usahanya.
Pemilik pabrik mengaku telah melakukan berbagai cara untuk bertahan, mulai dari mengurangi kapasitas produksi, menekan biaya operasional, hingga memangkas keuntungan. Namun seluruh upaya itu tidak cukup untuk menyelamatkan usaha yang telah bertahun-tahun menjadi sumber penghidupan bagi sejumlah keluarga.
“Penjualan terus merosot, sementara harga kedelai dan kebutuhan produksi semakin mahal. Kami sudah tidak mampu lagi menutupi biaya operasional,” ujar salah seorang pelaku usaha.
Penutupan pabrik ini bukan hanya menjadi pukulan bagi pemilik usaha, tetapi juga bagi para pekerja yang kini kehilangan mata pencaharian. Sejumlah karyawan terpaksa dirumahkan setelah roda produksi berhenti total.
Kondisi tersebut menjadi gambaran nyata beratnya tekanan yang tengah dihadapi pelaku UMKM sektor pangan. Jika tidak ada langkah konkret untuk mengendalikan harga bahan baku dan menjaga stabilitas pasar, bukan tidak mungkin lebih banyak lagi industri tahu dan tempe di Cianjur yang menyusul gulung tikar.
Para pelaku usaha mendesak pemerintah untuk segera turun tangan mencari solusi nyata. Sebab, tanpa kebijakan yang mampu menekan gejolak harga kedelai dan memperkuat daya beli masyarakat, usaha kecil yang selama ini menjadi penopang ekonomi rakyat akan semakin terpuruk.
Kini, di tengah asap tungku yang telah padam dan mesin produksi yang berhenti beroperasi, tersisa satu pertanyaan besar: sampai kapan pelaku usaha kecil harus bertahan sendirian menghadapi badai ekonomi yang terus menghantam?
(Jurnalis: Warsito)


















