Pemeliharaan Pohon Jadi Prioritas, Paguyuban Kolaborasi Hijau Gelar Aksi Kolaborasi Hijau Ke-83 di Blok Gunung Congkrang

  • Whatsapp

Sharing is caring!

BN NEWS, Garut || Menanam pohon hanyalah awal dari perjalanan panjang menjaga kelestarian alam. Pohon yang ditanam tanpa pemeliharaan berpotensi tidak bertahan hidup, sehingga tujuan penghijauan untuk memulihkan ekosistem dan menjaga sumber daya air tidak akan tercapai secara optimal.

Bacaan Lainnya

Atas dasar itulah, Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut kembali menggelar Aksi Kolaborasi Hijau Ke-83 di Blok Gunung Congkrang, Kampung Ciarileu, Desa Mekarjaya, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Sabtu (27/6/2026). Kegiatan kali ini mengusung agenda utama pemeliharaan dan labelisasi lanjutan terhadap pohon-pohon yang telah ditanam pada aksi-aksi sebelumnya.

Kegiatan diawali dengan pendataan dan pemeriksaan kondisi tanaman, dilanjutkan dengan pembersihan gulma, perbaikan ajir, pengikatan kembali tanaman, penggantian tanaman yang tidak tumbuh, serta pemasangan label identitas sebagai bagian dari sistem monitoring pertumbuhan pohon.

Kepala Divisi Konservasi Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut, Lukmanul Hakim, menegaskan bahwa keberhasilan penghijauan tidak diukur dari banyaknya bibit yang ditanam, melainkan dari tingkat keberhasilan pohon tersebut tumbuh hingga dewasa.

“Banyak orang berlomba menanam pohon, tetapi yang lebih penting adalah memastikan pohon itu tetap hidup. Karena satu pohon yang tumbuh besar jauh lebih bernilai daripada puluhan bibit yang akhirnya mati. Oleh karena itu, pemeliharaan menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari gerakan konservasi. Inilah komitmen yang terus kami bangun di Paguyuban Kolaborasi Hijau.” katanya.

Menurutnya, labelisasi pohon juga memiliki fungsi penting sebagai media monitoring dan evaluasi sehingga perkembangan setiap tanaman dapat diketahui secara berkala.

“Dengan adanya label identitas, setiap pohon memiliki data yang jelas sehingga proses pemantauan lebih mudah dilakukan. Ini menjadi bentuk akuntabilitas sekaligus edukasi bahwa gerakan penghijauan harus dilakukan secara terukur dan berkelanjutan.” ungkap Lukman.

Sementara itu, H. Dede menyampaikan bahwa gerakan penghijauan merupakan investasi jangka panjang yang manfaatnya akan dirasakan oleh generasi mendatang.

“Kita mungkin tidak akan menikmati seluruh hasil dari pohon yang kita tanam hari ini. Namun anak cucu kita akan menikmati udara yang lebih bersih, mata air yang tetap mengalir, tanah yang lebih subur, dan lingkungan yang lebih lestari. Itulah makna sedekah lingkungan yang sesungguhnya.” ucapnya.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan penghijauan sebagai budaya, bukan sekadar kegiatan seremonial.

“Melestarikan alam tidak bisa dikerjakan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi masyarakat, pemerintah, komunitas, dunia pendidikan, dunia usaha, hingga generasi muda. Ketika semua bergerak bersama, menjaga lingkungan bukan lagi menjadi beban, melainkan menjadi kebiasaan dan tanggung jawab bersama.” ajaknya.

Blok Gunung Congkrang dipilih sebagai lokasi kegiatan karena memiliki peran strategis sebagai kawasan tangkapan air dan penyangga ekosistem di wilayah Garut Selatan. Keberadaan vegetasi yang sehat sangat penting dalam menjaga ketersediaan air, mengurangi risiko erosi dan longsor, serta meningkatkan kualitas lingkungan secara menyeluruh.

Melalui semangat “Merawat Alam, Menanam Harapan, Menguatkan Kebersamaan, dan Menjaga Keberlanjutan,” Paguyuban Kolaborasi Hijau berharap semakin banyak masyarakat yang terlibat dalam aksi nyata menjaga bumi.

Gerakan ini menjadi pengingat bahwa konservasi bukan sekadar menanam pohon, tetapi juga merawat harapan agar tetap tumbuh. Sebab, setiap pohon yang berhasil hidup akan menjadi penyangga kehidupan bagi manusia dan seluruh makhluk hidup di masa depan.

Hijaukan hari ini, untuk kehidupan yang lebih baik esok dan nanti. Bersama Kita Hijau, Bersama Kita Lestari.

Ditulis oleh
Cepi Gantina

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.