BN NEWS, Garut || Menanam pohon sering kali menjadi simbol kepedulian terhadap lingkungan. Namun bagi Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut, menanam hanyalah awal dari sebuah perjalanan panjang. Pohon yang ditanam harus dipastikan tumbuh, terawat, dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungan serta kehidupan masyarakat di masa depan.
Semangat itulah yang kembali diwujudkan dalam Aksi Kolaborasi Hijau ke-78 yang dilaksanakan di Blok Gunung Congkrang, Kampung Ciarileu, Desa Mekarjaya, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Sabtu (6/6/2026). Kegiatan tersebut difokuskan pada labelisasi dan pemeliharaan lanjutan tanaman yang sebelumnya telah ditanam dalam berbagai program penghijauan.
Di tengah hamparan perbukitan hijau dan udara sejuk Cikajang, para anggota paguyuban menyusuri lereng demi lereng untuk memeriksa kondisi tanaman, membersihkan gulma, melakukan pemeliharaan, sekaligus memasang label identitas pada pohon-pohon yang telah tumbuh.
Kepala Divisi Informasi dan Kolaborasi Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut, Asep Gumilar, mengatakan bahwa keberhasilan sebuah gerakan lingkungan tidak diukur dari banyaknya bibit yang ditanam, melainkan dari berapa banyak pohon yang mampu bertahan hidup dan memberikan manfaat bagi ekosistem.
“Banyak orang bisa menanam, tetapi tidak semua mau merawat. Padahal pohon yang tumbuh dan bertahan itulah yang kelak akan menjaga mata air, menahan erosi, menghasilkan oksigen, dan memberikan kehidupan. Karena itu kami terus melakukan monitoring, pendataan, serta pemeliharaan agar setiap pohon memiliki peluang tumbuh yang lebih baik,” ujarnya.
Menurut Asep, kegiatan labelisasi juga menjadi bagian penting dalam upaya membangun sistem dokumentasi dan pengawasan tanaman secara berkelanjutan.
“Setiap pohon yang diberi label memiliki identitas yang jelas. Kami mendata nomor pohon, jenis tanaman, tahun tanam, lokasi, hingga perkembangan pertumbuhannya. Dengan cara ini, proses monitoring menjadi lebih mudah dan akurat,” tambahnya.
Menariknya, kegiatan tersebut juga melibatkan generasi muda yang selama ini aktif dalam gerakan lingkungan. Dua remaja putri yang masih duduk di bangku kelas XI SMA, Septiani Rahmawati dan Sopi Fauziah, tampak tekun mencatat data pohon di lapangan.
Di bawah terik matahari dan di tengah medan yang cukup menantang, keduanya mendata satu per satu nomor pohon, nama tanaman, tahun penanaman, serta berbagai informasi lainnya yang diperlukan untuk kebutuhan monitoring.
Bagi Septiani dan Sopi, kegiatan tersebut bukan sekadar tugas administrasi, melainkan bentuk kepedulian terhadap masa depan lingkungan.
“Kami belajar bahwa menjaga alam bukan hanya soal menanam pohon. Pohon yang sudah ditanam harus diketahui perkembangannya, dirawat, dan dipastikan tetap hidup. Dengan mendata pohon-pohon ini, kami ikut membantu memastikan bahwa tanaman yang sudah ditanam tidak terlupakan begitu saja,” ujar Septiani.
Hal senada disampaikan oleh Sopi Fauziah. Menurutnya, keterlibatan generasi muda dalam kegiatan lingkungan sangat penting karena mereka akan menjadi pihak yang merasakan dampak kondisi bumi di masa depan.
“Kami ingin menjadi bagian dari solusi. Dari kegiatan ini kami belajar tentang tanggung jawab, kesabaran, dan pentingnya menjaga alam. Pohon yang hari ini kami data mungkin akan menjadi pohon besar yang memberi manfaat bagi banyak orang beberapa tahun ke depan,” katanya.
Kehadiran generasi muda dalam kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa gerakan pelestarian lingkungan tidak mengenal batas usia. Di tengah tantangan perubahan iklim dan semakin berkurangnya kawasan hijau, keterlibatan anak-anak muda menjadi harapan baru bagi keberlanjutan bumi.
Aksi Kolaborasi Hijau ke-78 juga menjadi refleksi bahwa menjaga lingkungan tidak cukup dilakukan melalui kampanye atau peringatan tahunan semata. Dibutuhkan kerja nyata yang konsisten, mulai dari menanam, merawat, mendata, hingga memastikan setiap pohon dapat tumbuh dengan baik.
Karena sesungguhnya, pohon yang tumbuh hari ini bukan hanya menjadi penghijauan bagi lereng-lereng Gunung Congkrang. Ia adalah penjaga mata air, penahan erosi, penghasil oksigen, sekaligus warisan kehidupan bagi generasi yang akan datang.
Jika menanam adalah harapan, maka merawat adalah bukti kesungguhan.
Dan di Gunung Congkrang, kesungguhan itu terus tumbuh bersama setiap pohon yang dijaga oleh tangan-tangan penuh kepedulian. (Cepi Gantina)



















