Saep Lukman : Antara Puisi & Cerita Wayang

  • Whatsapp

Sharing is caring!

Bela Nergara News- Cianjur.

KAMU  ingin menang dalam baratayudha ini?. Sudahlah pulang jangan ikut berperang. Segera simpan busur dan panahmu,” kata Kresna mengingatkan Arjuna yang bimbang.  Satria sejati, Kresna melanjutkan, berperang bukan semata-mata karena ingin menang. Ia datang ke medan juang bukan untuk menundukkan, bukan pula untuk mengalahkan atau mempermalukan lawan. Atau karena berharap tepuk tangan riuh dan sorak sorai membahana dari pendukungmu.

“Satria sejati hadir di medan laga harus semata-mata untuk visi lebih besar, terkait masa depan kemanusiaan yang lebih baik, terkait tugas dari dewata dan semesta raya bukan untuk secuil nafsumu yang menggelapkan itu,” kata Kresna lagi.

Demikian  penggalan sebuah tulisan  Saep Lukman,  yang saat ini menyukai cerita cerita wayang  dan puisi. Sehingga, sudah banyak koleksi buku buku tentang wayang atau pun puisi karya penyair penyair  ternama dari dalam negeri maupun luar negeri dibacanya.

“Menghayati sebuah  cerita wayang dan puisi memerlukan kejelian dan rasa yang mendalam, sehingga olah nalar dan rasa akan menambah  hidupnya cerita bahkan puisi tersebut untuk diaplikasikan pada lehidupan sehari hari,” ujar Saep Lukman ketika mengawali bincang bincangnya  dengan sekali kali minum sajian kopi Sarongge, yang diakuinya Ia suka kopi model demikian dan jadi kebanggan Cianjur.

Sosok  yang saat ini aktif di berbagai kegiatan tersebut, menyebut  cerita wayang , puisi dan kopi sebuah  sajian yang paling tajam dan pelik dibandingkan sebuah pergerakan politik di Cianjur. Karena, didalamnya kadang lembut, kadang siloka bahkan kadang juga keras  sehingga mampu merobek, menghantam bahkan meluluh lantakan perasaan.

“Perasaanku bisa marah, benci bahkan semangat terbakar manakala membaca puisi- puisi  karya penyair ternama. Begitu juga aku bisa sedih campur heran mana kala rasaku larut terbawa sebuah alur cerita wayang yang penuh penghianatan, penuh dusta dan penuh kebohongan  gara gara ingin kekuasaan,” ujar Saep Lukman dengan mata menerawang jauh, dan sekali kali  secara perlahan menghisap rokoknya.

Seperti cerita ini, lanjut  Saep Lukman yang pernah menjadi Wakil Ketua DPRD Cianjur tersebut menujuk pada sebuah tulisan cerita,  Pilkada jagat dewa akhirnya menetapkan Manikmaya untuk mengemban amanah kekuasaan Istana Jongkringsalaka selanjutnya dengan gelar Batara Guru.

Para dewa sempat protes kenapa kekuasaan diberikan kepada Manikmaya. Dewa Nurcahya berujar, wajar Manikmaya mendapat kuasa, ia memiliki tubuh yang ramping karena sering puasa. Sebab sejatinya menjadi penguasa adalah untuk berpuasa.

“Dan dalam wayang lakon dua entitas atau lebih bisa saja memiliki peran bahkan tubuh yang sama. Seperti halnya Ismaya dan Batara Guru juga Antaga. Sebab itu silahkan bebas tafsirkan. Jreknong!.” Ujar Saep Lukman sambil tersenyum seolah menjadi jawaban pada hal hal yang sedang terjadi di Cianjur saat ini.   (Wawan Kusmiran).

Pos terkait