
BN News. Banyumas || Gemuruh semangat kemandirian menggema dari halaman Pondok Pesantren Abdul Djamil Tebu Ireng 17 Sokaraja. Keluarga besar pesantren, jajaran pendidik, para pelaku UMKM, hingga unit-unit usaha kreatif binaan pondok menyatakan dukungan 1000% terhadap Program Kemandirian Pesantren yang digulirkan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas.
Program ini dikenal sebagai Community Economy Hub, konsep besar yang menempatkan pesantren sebagai pusat pemberdayaan ekonomi kreatif berbasis komunitas. Dukungan ini kian kuat karena ekosistem usaha di Tebu Ireng 17 tumbuh pesat di bawah pengelolaan H. Imam Purwanto, akrab disapa Anto Djamil atau Ayahe, yang juga menjabat sebagai Ketua Yayasan PP Abdul Djamil Tebu Ireng 17 Sokaraja. Beragam unit usaha kreatif dan UMKM yang ia kelola menjadi laboratorium praktik harian bagi santri dan siswa-siswi SMP Perantara Tebu Ireng 17.
Dua tokoh sentral pesantren, saat dihubungi awak media pada Jum’at Kliwon (14/11/2025), menegaskan bahwa program Kemenag Banyumas selaras dengan napas perjuangan Tebu Ireng 17, mencetak santri yang berilmu, berakhlak, dan berdaya ekonomi sejak dini.
“Santri Yatim Harus Tumbuh Berdaya”
Pengelola Ponpes NU Abdul Djamil, H. Mohammad Husain, S.Pd., M.Si., menegaskan bahwa program Kemandirian Pesantren sangat relevan, terutama dalam membina dan mengangkat derajat santri yatim-piatu.
“Anak yatim memiliki privilege dan pondasi kuat karena dijamin oleh agama dan negara,” tegas Husain.
“Agar mereka tumbuh percaya diri dan tidak minder, dukungan lintas lembaga sangat diperlukan. Kunci keberhasilan itu adalah support penuh dari Kankemenag, Bank Indonesia, dan UMKM.”
Menurutnya, program Kemenag yang mendorong ekspansi ekonomi pesantren adalah energi besar bagi masa depan santri.
“Kami 1.000% mendukung. Ini bukan program biasa, tetapi gerakan besar untuk mencetak generasi berdaya.”
Anto Djamil, “Dipaksa, Terbiasa, Luar Biasa, Jadi Hobi, Mendatangkan Hoki”
Pelaku usaha kreatif dan pembina karakter santri, H. Imam Purwanto (Anto Djamil / Ayahe), menegaskan bahwa kemandirian pesantren hanya bisa dicapai melalui transformasi cepat dan menyeluruh.
“Upaya mewujudkan kemandirian pesantren menuntut revolusi. Santri harus melalui proses: dipaksa, menjadi terbiasa, lalu luar biasa, akhirnya jadi hobi, dan pada ujungnya mendatangkan hoki.”
Ia menjelaskan bahwa sejak awal, Tebu Ireng 17 membentuk ekosistem santripreneur yang disiplin, kreatif, dan terukur.
“Kami membangun ekosistem santri dengan tagline BATIK, Bersih, Aman, Tertib, Indah, dan Kerja Serta superteam.”
Aktivitas pembelajaran diarahkan pada lima pilar, membaca, mengamalkan, meneliti, berinovasi, dan berkarya.
Monitoring dilakukan ketat untuk memastikan keseimbangan antara ngaji, praktik wirausaha, dan pembentukan karakter.
“Kami tidak ingin santri hanya pintar membaca kitab, tetapi juga mahir membaca peluang,” pungkasnya.
Di penghujung wawancara, Anto menutup dengan pesan yang meresap ke relung jiwa pesantren,
“Syukur adalah kunci rahasia kesuksesan yang sangat besar…”
Tebu Ireng 17, Rumah Ilmu, Rumah Kemandirian.
Dengan dukungan 1.000% dari keluarga besar pesantren, para pendidik, pelaku UMKM, dan jejaring kewirausahaan yang terus tumbuh, Ponpes Abdul Djamil Tebu Ireng 17 Sokaraja menegaskan komitmennya untuk berada di garis depan dalam menguatkan program Kemenag Banyumas.
Bagi mereka, pesantren bukan hanya benteng moral dan spiritual, tetapi juga pilar ekonomi umat yang mampu melahirkan generasi santripreneur, tangguh, kreatif, dan mandiri.
Program Kementerian Agama disambut bukan sebagai instruksi, melainkan sebagai gerakan bersama menuju pesantren mandiri yang digdaya, berilmu teguh, bermartabat tinggi, dan menjadi lokomotif kesejahteraan umat.
(Kontributor : Djarmanto-YF2DOI//warto)


















