Bukan Sekadar Pelatihan: Dari Lereng Cikuray, Relawan Lahir dengan Aksi Nyata Menjaga Bumi

  • Whatsapp

Sharing is caring!

Bacaan Lainnya

BN NEWS, Garut || Penutupan Pendidikan dan Pelatihan Dasar Relawan Divisi Kebencanaan Nurfa Peduli 2026 menghadirkan wajah berbeda dari sebuah kegiatan pelatihan. Di tengah alam terbuka lereng Gunung Cikuray, tepatnya di kawasan Curug Darwin hingga Desa Barusuda, Kecamatan Cigedug, para relawan tidak hanya menyelesaikan proses belajar, tetapi langsung membuktikan aksi nyata di lapangan.

Selama tiga hari, 20 hingga 22 April 2026, para peserta tidak hanya dibekali pengetahuan kebencanaan, tetapi juga diajak memahami satu hal penting: bahwa kesiapsiagaan bencana dimulai dari cara manusia memperlakukan alam.

Alih-alih menutup kegiatan dengan seremoni, para relawan justru turun langsung melakukan aksi penghijauan di kawasan sumber mata air. Penanaman pohon yang dilakukan menjadi simbol kuat bahwa mitigasi bencana bukan sekadar teori, melainkan tindakan nyata yang harus dimulai sejak sekarang.

Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah, komunitas, organisasi relawan, hingga pecinta alam. Kolaborasi lintas elemen tersebut memperlihatkan bahwa upaya menjaga lingkungan dan mengurangi risiko bencana hanya bisa berhasil jika dilakukan bersama.

Ketua Yayasan Ikhwatul Hasanah, Abah Cakra, menyebut kegiatan ini sebagai perpaduan penting antara gerakan kemanusiaan dan kepedulian lingkungan. Menurutnya, relawan masa kini tidak cukup hanya sigap saat bencana terjadi, tetapi juga harus aktif dalam upaya pencegahan.

Camat Cigedug, Ma’mun Gunawan, menegaskan bahwa wilayahnya menghadapi tantangan lingkungan yang kompleks. Ancaman longsor dan banjir saat musim hujan, serta kekeringan di musim kemarau, menjadi siklus yang harus dihadapi setiap tahun.

“Kita tidak bisa hanya menunggu. Upaya pencegahan harus dimulai dari sekarang. Apa yang dilakukan hari ini adalah langkah kecil, tapi dampaknya besar untuk masa depan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya menjaga optimisme di tengah berbagai persoalan lingkungan. Menurutnya, kehadiran para relawan menjadi bukti bahwa masih banyak pihak yang memilih menjadi bagian dari solusi.

Ketua Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut, H. Jaeni, menambahkan bahwa aksi penghijauan di kawasan sumber air merupakan langkah strategis dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

“Menanam pohon berarti menjaga kehidupan. Mungkin hasilnya tidak langsung kita rasakan, tapi manfaatnya akan dinikmati oleh generasi berikutnya,” katanya.

Penutupan Diklatsar ini akhirnya menjadi titik awal, bukan akhir. Para relawan pulang dengan pemahaman baru: bahwa tugas mereka bukan hanya hadir saat bencana terjadi, tetapi juga memastikan bencana itu tidak datang.

Dari lereng Cikuray, lahir pesan sederhana namun kuat bahwa menjaga bumi adalah bagian dari menyelamatkan kehidupan. (Cepi Gantina)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.