Harga Melambung, Pembeli Menghilang: Pedagang Komputer Cianjur Tuding Pemerintah Gagal Jaga Daya Beli Rakyat

  • Whatsapp

Sharing is caring!

BN NEWS, Cianjur || Menjelang tahun ajaran baru yang biasanya menjadi ladang keuntungan bagi pedagang komputer dan laptop, pelaku usaha di Kabupaten Cianjur justru menghadapi situasi yang berbanding terbalik. Alih-alih menikmati peningkatan penjualan, mereka kini harus berhadapan dengan sepinya pembeli, melonjaknya harga barang, dan terus menurunnya daya beli masyarakat.

Bacaan Lainnya

Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah serta tingginya biaya distribusi akibat mahalnya BBM telah memukul sektor perdagangan teknologi hingga ke tingkat daerah. Harga laptop, komputer, dan berbagai komponen pendukung pendidikan terus mengalami kenaikan, sementara kemampuan masyarakat untuk membeli justru semakin melemah.

Akibatnya, toko-toko komputer yang biasanya ramai menjelang penerimaan siswa dan mahasiswa baru kini tampak lengang. Barang tersedia, stok menumpuk, namun pembeli nyaris tidak ada.

“Biasanya menjelang tahun ajaran baru kami kewalahan melayani pelanggan. Sekarang yang datang hanya melihat-lihat, lalu pulang karena harga sudah tidak terjangkau,” ungkap salah seorang pedagang komputer di Cianjur.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar terhadap efektivitas kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi rakyat. Di tengah gencarnya klaim pertumbuhan ekonomi dan pembangunan nasional, pelaku usaha kecil justru merasakan tekanan yang semakin berat dari hari ke hari.

Para pedagang menilai pemerintah pusat maupun daerah terkesan lamban merespons penurunan daya beli masyarakat yang kini mulai berdampak langsung terhadap sektor perdagangan. Program digitalisasi pendidikan yang selama ini sering dikampanyekan dinilai tidak akan berjalan optimal apabila masyarakat kesulitan membeli perangkat pendukung seperti laptop dan komputer.

Ironisnya, perangkat komputer saat ini bukan lagi barang mewah, melainkan kebutuhan utama bagi pelajar, mahasiswa, pekerja, hingga pelaku usaha. Namun tingginya harga membuat banyak keluarga terpaksa mengesampingkan kebutuhan tersebut demi memenuhi kebutuhan pokok yang terus mengalami kenaikan.

“Yang kami lihat di lapangan berbeda dengan apa yang sering disampaikan para pejabat. Katanya ekonomi membaik, tetapi pembeli semakin sedikit. Kalau masyarakat benar-benar sejahtera, tentu toko-toko tidak akan sesepi ini,” ujar seorang pedagang.

Keluhan para pedagang tersebut menjadi sinyal bahwa tekanan ekonomi sudah mulai dirasakan hingga lapisan bawah. Ketika usaha kecil kehilangan pelanggan, omzet merosot, dan modal usaha tertahan, maka sesungguhnya roda ekonomi daerah sedang mengalami perlambatan yang tidak boleh dianggap sepele.

Para pelaku usaha berharap pemerintah tidak hanya sibuk menyampaikan data dan angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga hadir dengan kebijakan nyata yang mampu menjaga stabilitas harga, memperkuat nilai tukar rupiah, menekan biaya distribusi, serta mengembalikan daya beli masyarakat.

Sebab jika kondisi ini terus berlanjut, bukan hanya pedagang komputer yang terancam gulung tikar. Sektor usaha kecil lainnya juga berpotensi mengalami nasib yang sama. Pada akhirnya, masyarakat kecil kembali menjadi pihak yang harus menanggung beban paling berat dari gejolak ekonomi yang tak kunjung mereda.

(Jurnalis: Warsito)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.